Masalah gizi kurang pada masyarakat Indonesia memang belum sepenuhnya
teratasi. Namun di sisi lain, masalah obesitas juga tak kalah
pentingnya dan perlu mendapatkan perhatian serius. Karena berdasarkan
Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2010 pada anak usia 6-12 tahun,
prevalensi anak kegemukan mencapai 9,2 persen.
Dokter Laila Hayati, M.Gizi, SpGK dalam acara SOHO #BetterU: Hari
Gizi Nasional, menjelaskan, obesitas merupakan penumpukan jaringan lemak
berlebihan di dalam tubuh. Masalah kesehatan ini bukan saja terjadi di
negara maju, tetapi juga di negara berkembang, termasuk di Indonesia.
"Penyebabnya karena yang mereka konsumsi dan mudah didapatkan adalah
karbohidrat yang bisa membentuk jaringan lemak di dalam tubuh," ujar
Laila Hayati di Jakarta, Rabu (22/1).
Obesitas, menurutnya menjadi masalah yang serius karena bisa
mengakibatkan berbagai macam gangguan kesehatan. Apalagi, jika terjadi
pada anak yang masih dalam tahap pertumbuhan.
"Obesitas bisa menyebabkan arteri karotis dan kolesterol yang tidak
normal karena di dalam darahnya terdapat banyak lemak sehingga
mempengaruhi pembuluh darah," ungkapnya.
Diabetes, hipertensi, penyakit jantung, gangguan tidur dan kanker
juga bisa timbul akibat obesitas. "Orang dengan obesitas juga berpotensi
mengalami gangguan hati, gangguan makan, anoreksia, infeksi kulit dan
asma, serta gangguan pernafasan lainnya," kata Laila.
Masalah obesitas pada anak sebetulnya mudah dikenali. Beberapa gejala
klinis yang bisa terlihat seperti tinggi dan berat badan yang tidak
seimbang, ukuran penis yang terlihat kecil karena tenggelam akibat
jaringan lemak di sekitar penis yang meninggi. Lalu, adanya penumpukan
lemak di area perut dan sekitar payudara, serta bentuk kaki yang bengkok
akibat terlalu berat menopang beban tubuh.
Dijelaskan Laila, pola makan yang buruk, aktivitas fisik yang kurang
serta rendahnya kontrol orang tua terhadap makanan yang dikonsumsi anak
menjadi faktor dominan yang dapat meningkatkan resiko obesitas pada
anak. Obesitas pada anak sebetulnya dapat dicegah.
"Selalu pantau pertambahan berat badan dan tinggi badan secara
teratur, menghitung Indeks Massa Tubuh (IMT) anak secara berkala,
melakukan aktivitas fisik rutin tiga hingga lima kali dalam seminggu,
dan melakukan pengontrolan makanan pada anak," ujar Laila.
http://www.beritasatu.com/kesehatan/162191-wajib-tahu-bahaya-obesitas-pada-anak.html
Yogyakarta, Aktual.com – Obesitas (kelebihan berat badan) perlu mendapatkan perhatian serius, karena kasus kegemukan di dunia mengalami peningkatan dari waktu ke waktu, kata Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta Jonathan Willy Siagian.
BalasHapus“Peningkatan itu (kelebihan berat badan) cukup mengkhawatirkan, karena obesitas ditengarai menjadi salah satu penyebab kematian yang cukup signifikan pada abad ke-21 ini,” katanya pada kuliah tamu dan diskusi tentang obesitas di Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta, Jumat (7/8).
Akademisi: Obesitas Perlu Mendapat Perhatian Serius